| "Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu." (QS. an-Nisa': 86).
"Apabila salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya, maka ucapkanlah salam padanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi, maka salamlah juga padanya." (HR. Abu Daud).
Percayakah Anda bahwa ada bentangan samudera spiritual yang tak terperikan di balik ajaran mengucapkan salam (Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh) dan menjalin tali silaturahmi? Bagaimanakah Anda memahami relasi logis antara kebiasaan bersilaturahmi dengan kemurahan rezeki dan umur yang panjang? Serta bagaimana pulakah Anda mampu menyadari bahwa dengan senantiasa bersilaturahmi berarti anda telah berinvestasi untuk kebahagiaan Anda di akhirat kelak?
Jika selama ini Anda memahami salam sebagai lipstik belaka dan silaturahmi sebagai "ajang lobi dan relasi" an sich, berarti Anda termasuk muslim/muslimah yang telah mencederai integritas salam dan silaturahmi. Maka, Anda sangat perlu mempelajari buku ini yang secara rasional dan teologis membedah segala misteri spiritual dan sosial di balik pembiasaan diri mengucap salam dan memelihara silaturahmi.
Buku ini menghadirkan pembacaan dan pemahaman yang baru tentang jagat salam dan silaturahmi sekaligus, dengan bersendikan pada sumber-sumber otentik (al-Qur?an dan hadits) dalam kerangka nalar ilmiah psikologi kontemporer. Dengan gaya bahasa khas yang padat, mudah dicerna serta penuh tips, buku ini menghadirkan nuansa berislam yang shalih secara spiritual (Ilahiyah) dan sekaligus agung secara sosial (kemanusiaan).
Jangan lewatkan buku berharga ini?! |